Skip to main content or archives
nien / Uncategorized / May 03, 2011 @ 12:59 am
Dulu, saya berpikir kalau konsep slow city agak sedikit mengada-ada. Ya, slow city, sebuah konsep yang terinspirasi dari slow food, kebalikan dari fast food. Kira-kira tentang bagaimana kota bertahan dari hal-hal yang mengancam ekonomi dan budaya menjadi serba homogen (jaringan resto fast food, toko-toko franchise, dll). Homogenitas tak hanya membuat serba sama, juga serba cepat. Sebagai antitesis, slow city menawarkan keberagaman lokal, lingkungan yang lebih sehat, ekonomi berkelanjutan, tradisi yang terjaga, dan tentu saja penghayatan penuh makna akan setiap proses-proses yang ada.

Melawan hidup yang on the go, seperti tak ada jeda, begitu mungkin istilah dari negerinya Duke dan Duchess of Cambridge. Seperti orang-orang yang membawa kopi dalam tumblr sambil berjalan cepat atau makan siang sambil menatap layar monitor, seolah-olah waktu akan segera habis.

Nah, hari Minggu kemarin, saya berkesempatan memasak bersama-sama beberapa teman. Membuat otak-otak, membersihkan si daun pisang, membungkusnya satu demi satu sebelum dibakar. Masing-masing pun membawa camilan dan makanan lokal yang khas atau mulai langka. Juga membuat es tebak (semacam es campur yang berasal dari Padang) dan santannya diparut sendiri, bukan santan instan. Membakar ikan dan menyiapkan aneka makanan lainnya, walau kalau buat saya, ikut-ikutan menyiapkan mungkin adalah istilah yang lebih tepat. Makan bersama sembari berdiskusi ringan di sela-selanya. Yang pasti saya menikmati setiap detiknya.

Sensasi yang menyenangkan. Saya jadi tersadar, ini sudah lama tak saya lakukan. Hal-hal yang tadinya cukup sepele buat saya tapi kok kini terasa luar biasa. Rasanya menjadi sangat maklum kenapa gerakan slow food, slow city, ataupun slow movement lainnya sampai muncul. Ada ruang kosong yang ternyata dirindukan oleh manusia-manusia on the go dan kembali ke asal adalah jawabannya.

Walau mungkin… ini bukan jawaban untuk semua orang.

Posted via email from Miscellaneous Nien


nien / Uncategorized / May 02, 2011 @ 10:05 am

Ramalan bintang hari ini bilang …you are in for one fun, educational day…
Selamat hari pendidikan nasional! Belajar itu menyenangkan, mencerahkan, memberdayakan :)

Icons_leo

As the old saying goes, you learn something new every day — and today you’re likely to exceed that modest expectation considerably! Maybe it’s the fact that your mind is hungry for new input, or maybe it’s because you’ll be surrounded by some stimulating minds today — but you are in for one fun, educational day. Learning hasn’t been this enjoyable since you were a kid in kindergarten, exploring the world and mastering the tasks of everyday living. -Y! Astrology

Posted via email from Miscellaneous Nien


nien / Uncategorized / Mar 28, 2011 @ 9:32 pm

Learn to pause, or nothing worthwhile will catch up to you. - Doug King

Kini, begitu banyak yang kita produksi. Barang ini dan barang itu, tentu saja. Begitu pula tentang informasi. Tapi apa kita benar-benar mendengarkan, memperhatikan, merasakan sehingga bisa memahami? Mungkin tidak.

Dan, kemampuan kita menyimak pun telah berevolusi menjadi sebatas jumlah karakter dalam twitter, sepanjang update status di FB, atau selama durasi video klip sepanjang 3 menit. Walau memang, mereka hadir jauh lebih cepat dan sering, kadang terasa seperti teror yang kita sambut dengan tangan terbuka.

Membuat rasa rindu pada hening pun menjadi muncul…

Ah, sudah ah, tak mau berpanjang-panjang!

Posted via email from Miscellaneous Nien


nien / Uncategorized / Feb 26, 2011 @ 8:51 am

Pagi tadi saya menemui pemandangan yang rasanya ganjil. Ada perahu teronggok di tepi jalan, di tengah kawasan permukiman. Ngapain coba?

Beginilah Jakarta, tak pernah berhenti membuat saya terheran-heran (atau prihatin ya?). Uhm melihat postingan beberapa waktu lalu (http://nien.posterous.com/jalan-atau-kali), sepertinya si perahu adalah jawaban atas pertanyaan saya tersebut. Tapi semoga, perahu bukan satu-satunya solusi dari soal jalan yang kadang-kadang berubah menjadi kali itu, semoga.

Posted via email from Miscellaneous Nien


nien / Uncategorized / Jan 17, 2011 @ 2:14 am

Sebagai anak kos yang seringnya makan di warteg, ajakan nyicipin kuliner asli Betawi tentunya ngga boleh untuk dilewatkan. Tujuan kali ini adalah Rumah Makan Betawi Ora (Masakan Khas Betawi Pinggir) di Jl. Raden Saleh Tangerang, daerah Ciledug-Karang Tengah.

Nuansa warung ini ala Betawi dengan dominasi warna hijau. Kita akan disambut mpok dan abang yang berpakaian ala Betawi, disapa dengan panggilan mpok, dan disetelkan lagunya Benyamin. Warung ini relatif baru, baru buka Juli 2010. Ora ternyata artinya sama dengan dalam bahasa Jawa yang berarti tidak, tapi dalam konteks ini bisa juga dikonotasikan dengan pinggiran.

Nah, salah satu menu andalan di warung ini adalah Gabus Pucung. Masakan ini adalah ikan gabus yang dibumbui kuah pucung (Jawa:kluwak), jahe, cengkeh, laos, bawang merah, serta bawang putih. Rasanya kaya bumbu, sedap! Lalu ada andalan lainnya yaitu nasi ulam yang dibumbui salam, jahe, dan cengkeh dengan srundeng kelapa, lauk daging empal bumbu laos, teri, suwiran telur dadar, juga kering tempe. Menurut Babe Guntur, salah satu dari tiga bersaudara pemilik warung ini, nasi ulam di daerah Tangerang memang hanya ada di tempat ini, kalau di tempat lain kebanyakan menjual nasi uduk.

Makanan lain yang cukup unik adalah sayur asemnya. Isi sayur asem ini ada oncom, melinjo utuh, juga kacang tanah yang masih ada kulitnya. Lucu sih, utuh-utuh begini. Apa tukang masaknya males ngupas ya, barangkali… :-) Cuman, kalau soal rasa, tempo hari pernah mencoba sayur asem Betawi di daerah Condet, Jakarta Timur dan rasa sayur asem yang di Ora ini memang masih kalah sedap dibanding dengan yang di Condet. Untuk minumannya ada teh betot, mirip-mirip teh tarik tapi ada taburan keju parutnya, lalu ada juga asinan Betawi.

Sayang, ada menu unik yang lagi kosong antara lain pecak bandeng dan lele, sambel kemiri, selendang mayang, kue dongkal, juga oblang duren. Untuk menu yang agak langka ini, kalau mau menikmati, sebelumnya harus pesan dulu.

Selain rumah makan, Babe Guntur bercerita kalau ada juga komunitas yang namanya sanggar Kobra alias Komunitas Betawi Ora (Budaya Orang Betawi Pinggiran). Kobra ini sering diundang kalau ada hajatan Betawi. Di daerah ini, Betawinya lebih banyak terpengaruh etnis Cina, jadi perayaan tradisionalnya mirip dengan ala Cina. Hmm, untungnya, cuma namanya aja yang Kobra, warung ini ngga jualan sop kobra, hehe.

Berhubung pasukan pencicip kuliner ngga begitu komplet, tidak banyak yang bisa dicicipin karena perut keburu penuh. Sebenarnya masih ada menu yang lain seperti nasi ulam dengan lauk ayam atau udang, soto betawi, sop iga sapi,  kepala kakap, sayur penganten/besan, aneka pepes, serta pindang bandeng.

Menurut saya sih makanan di sini sudah sundul langit alias maknyus terutama untuk gabus pucung dan nasi ulam empal laos. Tapi, kalau kata temen saya yang lumayan paham kuliner, makanan Betawi yang ada di daerah Bekasi lebih enak lagi. Wah… Patut dicoba di lain kesempatan.

Rumah makan ini buka mulai sekitar pukul 10 pagi hingga 10 malam. Harga minuman dan makanan (yang kami pesan) berkisar mulai 10 ribuan hingga 30 ribuan, kalau kerupuk ya tetap 1000 :-) Website Rumah Makan Betawi Ora bisa dibuka di http://www.rumahmakanbetawiora.com/

Posted via email from Miscellaneous Nien


nien / Uncategorized / Dec 31, 2010 @ 6:54 am

31 December 2010

Simple, old-fashioned hard work and determination will be your key to success in 2011, Leo. There will be no magic formulas, no secret weapons, no mystical powers required to achieve what you are hoping for in the New Year. As long as you pursue your goals with passion and true commitment the force will be with you. Don't hesitate to be bold and to explore ideas that you were afraid to take on in the past. This will be a year for innovation, forward-thinking, and exciting changes.

Posted via email from Miscellaneous Nien


nien / Uncategorized / Dec 25, 2010 @ 11:17 am

Pulang ke Jogja, mampir ke rumah Daliyo alias Mbah Dal, pembuat gamelan di Pelem Lor, Banguntapan, Bantul.

Beliau ini sudah membuat gamelan sejak tahun 1953. Gamelan yang dibuat ada yang dari kuningan, perunggu, dan besi. Yang dari kuningan, satu set harganya sekitar 150 juta. Kalau yang dari perunggu, lebih mahal lagi, bisa mencapai 400an juta!

Kalau dari jenisnya, Mbah Dal membuat gamelan slendro, pelog, dan Gamelan Ageng. Gamelan Ageng ini isinya jauh lebih lengkap, misal ada bonang penembung yang kalau di gamelan slendro pelog biasa tidak ada. Nah, Mbah Dal ini katanya adalah sedikit dari pembuat gamelan yang bisa membuat "isi" dari si Gamelan Ageng yang lebih bermacam.

Hmm, andaikata punya duit ratusan juta, kira-kira kepikiran ngga ya untuk dipakai beli gamelan lengkap?

Posted via email from Miscellaneous Nien


 
 

www.flickr.com