“Lho mbak, komputere ket wingi ora dipateni?”
“Heeh, komputere kantor iki.”
Berhemat. Hemat energi. Akhir-akhir ini banyak bermunculan anjuran untuk hemat energi termasuk dari Presiden SBY.
Salah satu stasiun radio favorit saya sekarang rajin memberikan berbagai pesan cinta lingkungan. Misalnya tak cukup hanya menekan tombol off di perangkat listrik, cabut juga kabelnya. Atau anjuran untuk mematikan kendaraan ketika berada di lampu merah yang cukup lama (ternyata si papan penunjuk waktu itu ada gunanya :p). Ada juga tulisan dari berbagai blog menyambut hari Bumi beberapa hari yang lalu. Sedikit-sedikit mulai saya coba praktekkan.
Tapi saya kemudian teringat kejadian sewaktu magang tahun lalu. Yang membuat rasa pesimis saya muncul. Sebuah percakapan yang ditulis di awal tulisan ini. Waktu itu saya terkejut mendapati teman kantor yang tidak mematikan komputernya sewaktu pulang. Toh bukan punya dia, alasan si mbak kantor ini. Dan sayangnya tak hanya dia yang mempraktekkannya.
Hmph… Barang-barang setengah privat. Barang kantor, sekolah, kampus, intansi…
Selalu menggunakan untuk keperluan sehari-hari.
Tapi bukan milikku, bukan tanggung jawabku. Tak perlu peduli dan sayang.
Terus terang jadi khawatir, berbagai usaha penghematan bisa jadi sia-sia. Ketidakpedulian yang terjadi di mana-mana itu bisa meniadakan usaha penghematan yang dilakukan berbagai individu.
Ah, coba bisa berhemat energi di berbagai instansi itu. Tentu berdampak lebih besar dari usaha individu.
Lebih ramah lingkungan.
Berbagai alat jadi lebih tahan lama
Efisiensi biaya pengeluaran.
Kemungkinan memperbesar usaha. (Dan tambahan lapangan kerja?)
Kualitas layanan meningkat.
Ekstra bonus untuk pegawai. (Siapa tahu? :>)
Sekali merengkuh dayung, tiga dua pulau terlampaui?
Hmmph. Yuk hargai si barang-barang setengah privat!
A journey of a thousand miles begins with a single step - Confucius

