Ternyata tepat sebulan ngga ngeblog. Being busy lately. Banyak kegiatan antara lain sempet kuliah lapangan ke Malang, Surabaya, dan Bali. Asyiknya kuliah di perencanaan wilayah, banyak jalan-jalan… tapi sungguh berat di ongkos :p
Andaikata jadwal kuliah lapangan bergeser satu atau dua hari aja pasti jadwalnya bakal berantakan. Bus saya dan teman-teman sempat melewati ruas jalan tol Porong. Dua hari kemudian tanggul jebol dan jalan tol ditutup. Baru benar-benar percaya ketika melihat dengan mata kepala sendiri (dan baunya pun menyengat seperti bau belerang). Kawasan permukiman dan industri yang mati, mengenaskan.

Selama berada di sana, sempet mampir ke kantor koperasi tas dan koper Tanggulangin, Sidoarjo, ketemu sama pengurusnya. Presentasi si pengurus koperasi pun jadi lebih tepat kalau disebut curhat. Beliau membandingkan kasus lumpur Lapindo dengan gempa di Yogyakarta. Korban gempa Yogyakarta, dengan penyesuaian disana sini (bikin rumah yang tahan gempa misalnya) bisa mulai bangkit kembali tapi para korban lumpur Lapindo masih dalam kondisi serba tidak pasti. Entah kapan semburan lumpur berakhir dan akan seberapa luas dampaknya, tidak ada kepastian yang jelas. Kasus lumpur Lapindo tidak bisa lagi disebut banjir. Banjir datang lalu pergi, tapi lumpur Lapindo lebih tepat disebut danau, tak lagi bisa ditempati.
UKM tas, sepatu, dan koper yang banyak terdapat di Tanggulangin mau tidak mau terpengaruh. Walau area perajin tidak terendam lumpur (sejauh ini), terbatasnya akses menuju Tanggulangin membuat omset para perajin menjadi menurun drastis, lebih drastis daripada dampak kenaikan BBM beberapa waktu lalu.
Kasus perajin Tanggulangin mungkin baru salah satu contoh dampak ikutan lumpur Lapindo. Belum lagi akibat dari tidak beroperasinya dengan baik berbagai macam infrastruktur. Transportasi (rel KA, jalan tol yang harus ditutup), jaringan listrik, jaringan pipa gas (yang baru saja meledak), dan lain sebagainya. Waktu kuliah lapangan juga sempet mampir di Pelabuhan Tanjung Perak, kasus lumpur Lapindo ternyata juga membuat lalu lintas peti kemas dan kargo di pelabuhan tersebut cukup terhambat. Kasus lumpur punya dampak yang benar-benar luas. Entah kenapa dulu bisa-bisanya ada eksplorasi di daerah padat seperti ini, di dekat jalur transportasi regional pula…
Relokasi kawasan permukiman dan industri
Pembangunan infrastruktur baru.
Penanganan masalah lingkungan…
Belum lagi aspek memori dan historis yang tak ternilai…
Berapa duit yah yang harus dikeluarkan… dan duit siapa?

thuns said:
gak mau ngomentari bout lapindo ah :P
ntar ndak aku emosi karo BAKRIENGAN kae
(*KRIE=JI)
ayuuuk kpn2 ke bali bareng wae ;) mau ga…
November 26, 2006 @ 8:53 pmben monik mupeng dewe… xixixi…
Leo said:
Sekarang malah ada lagi Lumpur Barito..
November 27, 2006 @ 2:22 ambebek said:
lapindo denger2 saiki wes dadi obyek pariwisata :D
November 27, 2006 @ 12:52 pmbener ga?
curlyche said:
nien,finally,im found yours!!
wah,ini awal laporan pasca KKP yak!!
duit sapa ya mo dikeluarin utk ngebiayain itu??
sedangkan 10 juta u seminar aj,,ga ada apa2ny…hikss..*bingung mode on*
November 27, 2006 @ 11:11 pmnien said:
thuns : ggelem nek dibayari ;p
November 27, 2006 @ 11:57 pmLeo:yup!moga2 yg ini penangananya jauh lebih baik…
bebek: maksudna wisata bencana?
curlyche:hiehetete… itung2 nyicil ya che :D
tjahaju said:
*kok ndak ada chatbox nya*
iya.. aku tau bondan ‘04. tp ndak tau ya dia nge-blog juga apa ndak… pernah PKL di malang? dimana?
November 28, 2006 @ 8:02 amtjahaju said:
loh comment ku sek tas ndi? kok ga mlebu?
November 28, 2006 @ 8:12 amnien said:
tjahaju:kalo komen pertama dimoderate dulu mbak, tapi abis itu ngga kok :)
November 28, 2006 @ 8:14 amescoret said:
wah,pdhl th baru aku mau ke situ..???
December 22, 2006 @ 4:09 pmaman ga yee..????
efrie said:
biarin ja wes paling nanti tu lumpur kelar ndiri…………………….
May 17, 2007 @ 2:45 pm