Dua bulan mencoba tinggal di desa, jadi wong ndeso. Bukan desa yang gemah ripah loh jinawi, melainkan desa gersang di atas bukit. Air langka, apalagi di musim kemarau. Jalanan yang kering berdebu dan juga berkelok.
Entah kenapa menangkap aura pasrah di sana. Anak-anak kecil yang begitu mudah berkata tidak bisa. Yang ternyata bawaan ayah ibunya, like father like son. Yang tua dan yang muda… Seharusnya mereka bisa lebih baik lagi, tapi seperti sudah nyaman dengan segala ketidaknyamanan itu, sudah ayem dan tentrem. Inilah zona nyaman bagi mereka.
Nyamanmu, tak nyamanku melihat kenyamananmu.
Takut, jika banyak desa-desa kita pun seperti ini…
Pantas saja…
banyak pemeringkatan menempatkan Indonesia di peringkat menengah ke bawah dan tak juga beranjak.
Kecuali untuk korupsi ataupun penggundulan hutan tercepat.
Selalu ada peluang untuk berubah….
Bukan tentang bisakah, tetapi maukah?
Aku mau!

chocoluv said:
seberapa pun bagusnya ceritamu ttg desa…
September 15, 2008 @ 7:12 pmsaya tetep gamau…. kkn di desa :-P
nien said:
chocoluv : ealah… wong ya putune wong ndeso juga :P
September 16, 2008 @ 8:18 amwedhouz said:
ho oh… monik nggaya…
September 21, 2008 @ 1:28 pmyojo khan yo ndeso
:-D
alfin said:
keep on fighting nien,,,
September 19, 2009 @ 9:29 pm