Skip to main content or archives
nien / thoughts / May 20, 2008 @ 12:54 pm

Apa yang membuat Budi Utomo dan tokoh-tokoh serta gerakan-gerakan yang muncul kemudian berikutnya berbeda?
Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, dan banyak pahlawan lainnya…

Budi Utomo mulai bersentuhan dengan intelektualitas.
Ibarat katak yang keluar dari tempurung.
Rasanya tak bisa dilepaskan dari Politik Etis Belanda yang mungkin bisa dibilang “senjata makan tuan”.
Muncullah Dr. Sutomo, Wahidin Sudirohusodo, Tjipto Mangunkusumo, Kartini, Sukarno, Hatta, Sjahrir, Soewardi Suryaningrat, dan masih banyak lagi.

Tentu saja, ketika itu kata persatuan pun mulai muncul, ditandai dengan Sumpah Pemuda 20 tahun kemudian.

Dua hal yang tak boleh dilupakan di 100 tahun kebangkitan nasional ini.

Otak, bukan hanya otot.
Dan bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh :)


nien / confuzzling, thoughts / May 02, 2008 @ 10:59 am

“Lho mbak, komputere ket wingi ora dipateni?”
“Heeh, komputere kantor iki.”

Berhemat. Hemat energi. Akhir-akhir ini banyak bermunculan anjuran untuk hemat energi termasuk dari Presiden SBY.

Salah satu stasiun radio favorit saya sekarang rajin memberikan berbagai pesan cinta lingkungan. Misalnya tak cukup hanya menekan tombol off di perangkat listrik, cabut juga kabelnya. Atau anjuran untuk mematikan kendaraan ketika berada di lampu merah yang cukup lama (ternyata si papan penunjuk waktu itu ada gunanya :p). Ada juga tulisan dari berbagai blog menyambut hari Bumi beberapa hari yang lalu. Sedikit-sedikit mulai saya coba praktekkan.

Tapi saya kemudian teringat kejadian sewaktu magang tahun lalu. Yang membuat rasa pesimis saya muncul. Sebuah percakapan yang ditulis di awal tulisan ini. Waktu itu saya terkejut mendapati teman kantor yang tidak mematikan komputernya sewaktu pulang. Toh bukan punya dia, alasan si mbak kantor ini. Dan sayangnya tak hanya dia yang mempraktekkannya.

Hmph… Barang-barang setengah privat. Barang kantor, sekolah, kampus, intansi…
Selalu menggunakan untuk keperluan sehari-hari.
Tapi bukan milikku, bukan tanggung jawabku. Tak perlu peduli dan sayang.

Terus terang jadi khawatir, berbagai usaha penghematan bisa jadi sia-sia. Ketidakpedulian yang terjadi di mana-mana itu bisa meniadakan usaha penghematan yang dilakukan berbagai individu.

Ah, coba bisa berhemat energi di berbagai instansi itu. Tentu berdampak lebih besar dari usaha individu.
Lebih ramah lingkungan.
Berbagai alat jadi lebih tahan lama
Efisiensi biaya pengeluaran.
Kemungkinan memperbesar usaha. (Dan tambahan lapangan kerja?)
Kualitas layanan meningkat.
Ekstra bonus untuk pegawai. (Siapa tahu? :>)
Sekali merengkuh dayung, tiga dua pulau terlampaui?

Hmmph. Yuk hargai si barang-barang setengah privat!

A journey of a thousand miles begins with a single step - Confucius


nien / thoughts / Jan 12, 2008 @ 6:42 pm

Beberapa hari terakhir ini, media di Indonesia sepertinya didominasi berita tentang sakitnya Soeharto, presiden kita di era Orde Baru (yang sudah lama). Memancing lagi berbagai pro dan kontra. Ya, setelah beberapa saat rakyat Indonesia lupa, seperti kembali diingatkan…

Hmm… cuma ingin mengajak berhitung saja.
Jumlah dokter Pak Harto sepertinya lebih banyak daripada jumlah seluruh dokter di satu kabupaten di Indonesia timur sono…
Atau ngga usah jauh-jauh, mungkin juga lebih banyak daripada jumlah dokter di satu rumah sakit di Bantul misalnya….
Dan dari segi keahlian jelas lebih bervariasi, bermacam-macam dokter spesialis, ngga cuma dokter umum saja…

Yah… semoga dengan jumlah dan kualitas dokter yang kompeten, bisa memberikan yang terbaik :)


nien / spatial, thoughts / Dec 29, 2007 @ 4:16 pm

Duka di penghujung tahun. Banjir dan longsor di berbagai wilayah di Indonesia, terutama daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah. Dan mungkin baru permulaan. Pikiran bodon saya sempat berpandangan kalau di bulan-bulan berakhiran -ber ini sudah hujan setiap hari, ya di bulan-bulan kedepan, bulan-bulan berakhiran -ri, bakal mereda. Ini “sekedar” hujan yang terlalu cepat datang. Ngga gitu ya ternyata. Hmm, makin hari cuaca kok makin ekstrem saja.

Turut berduka untuk yang tertimpa musibah ini…

Membincangkannya dengan teman-teman. Beberapa di antaranya berujar nada yang hampir serupa. Merga menungsa wes kakehan dosa, akibat manusia sudah kebanyakan dosa. Ya memang, tapi entah kenapa saya kok menangkap nada terlalu pasrah di sana.

Bencana-bencana yang datang sebenarnya bisa diantisipasi supaya dampaknya tidak luas, bahkan mungkin bisa dicegah. Sungguh miris mendengar bahwa longsor di Tawangmangu sebenenarnya telah diprediksikan, sejak setahun yang lalu.

Weleh-weleh, kita tidak pernah tahu. Juga tak pernah benar-benar mengerti kawasan seperti apa yang kita tinggali. Dan selalu saja seperti terkaget-kaget ketika bencana muncul.

Padahal, berbagai penelitian, berbagai peta-peta rawan bencana, berbagai pedoman tentang area rawan bencana itu ada. Masuk saja ke situs PU misalnya… dan anda akan menemukannya setalah harus menelisik beberapa lama :) Di bagian terdalam, seperti memang tidak berniat untuk disosialisasikan. Sayang sungguh sayang…. berbagai pedoman penting sering hanya berhenti di meja saja.

Andai saja disosialisasikan… Tentu sudah bukan lagi dalam bentuk peraturan lengkap dengan pasal dan ayatnya. Juga bukan lagi segepok laporan yang masih lengkap dengan latar belakang dan tinjauan pustakanya. Tapi dalam bentuk yang sederhana, mudah dipahami. Iklan-iklan atau leaflet-leaflet yang sederhana saja tapi mengena. Mempersiapkan dalam menghadapi bencana, syukur-syukur bisa mencegahnya. Macam ini atau seperti ini. Apa sih yang harus dilakukan kalau bencana datang, tanaman jenis apa sih yang paling pas untuk mencegah longsor (kayaknya yang pasti bukan jemani :p)….

Btw, ini ada blog yang cukup informatif : Bencana.net. Juga ada link ke beberapa dokumen, ini dan ini… Aih, ribet yakz?


nien / thoughts / Nov 11, 2007 @ 2:43 pm

“Dulu waktu aku SMP, yang diberitain pacaran di infotainment itu Febby Febiola, sekarang kok Cinta Laura yang baru 13 tahun, mana pacarannya udah peluk-pelukan gitu.”
Kalimat yang bunyinya kira-kira seperti itu yang aku denger dari si penyiar waktu nyetel Swaragama, (uhm.. pendengar loyal sejak menang CD :>) Jumat malem kemaren.

Bener juga. Beberapa tahun lalu, seorang artis mengalami masa jaya-jayanya di TV, paling sering nongol di layar gelas itu, di usia sekitar 20an. Sekarang? Tiga belas tahun, lima belas tahun, dengan peran yang jauh melebihi usia si artis sebenarnya. Yang sepertinya terbawa ke dalam kehidupan mereka. Dan karena muncul di TV yang bisa dinikmati siapa saja, juga bisa mempengaruhi siapa saja.

Lalu artis 13 tahun di masa yang lalu itu? Hmm… Masih berseliweran di acara anak-anak. Ngga malu kalo masih ngeluarin album sebagai penyanyi cilik kayak Trio Kwek-Kwek. Idolaku :) Video klip dengan baju kuning dan wig warna-warni ceria yang ngga pernah aku lupa.

Peringatan Sumpah Pemuda Oktober kemarin banyak menyerukan kaum muda buat meningkatkan eksistensinya di kancah politik, untuk memimpin Indonesia. Di ranah yang satu itu, kaum muda memang seperti kurang kedengaran gaungnya. Padahal sejarah Indonesia dimulai dengan dipimpin orang-orang muda. Muda, segar, dan berani. Kalau kaum muda benar-benar mau memimpin berarti butuh meloncati generasi di atasnya persis. Butuh loncatan supaya bisa memimpin di kala masih muda. Kalau generasi yang di atasnya yang kemudian memimpin, berarti sudah bukan muda lagi. Dan kalau kaum muda sekarang baru eksis besok-besok, apa bedanya? :p

Nah, Cinta Laura dan teman-temannya justru sudah berhasil membuat loncatan. Loncatan generasi. Loncatan yang mungkin tidak begitu diharapkan karena efeknya sering dipandang negatif. Tapi mungkin bisa dicontoh para politikus muda. Kok sampai bisa meloncati generasi sebelumnya, menggusur seniornya dari sang layar gelas.

Blueh blueh blueh… nyambunginnya maksa? Hehehe, namanya juga loncatan :D